Serunya Even Google I/O Extended Lampung di IBI Darmajaya

Suasana acara Google I/O di lantai 3 Gendung dr. Hj. Yoenidar Karim Darmajaya. Foto: darmajaya for radarlampung.co.id

radarlampung.co.id – Ratusan mahasiswa di Lampung memenuhi aula lantai 3 Gedung dr. Hj. Yoenidar Karim IBI Darmajaya. Antrean panjang terjadi di depan aula diselenggaranya even tahunan ini, Jumat (19/5).

Direktur DJ Corp Davit Kurniawan mengutarakan, even ini bentuk kerjasama dengan Google Developers, Yayasan Alfian Husin, IBI Darmajaya, Gogo Campus, dan Krakatau Digital Movement. Tahun ini mengambil tema tentang Web Technology Firebase and Android.

Ditemui di sela-sela acara, ia mengungkapkan kekagumannya kepada mahasiswa Lampung yang haus akan ilmu digital. “Luar biasa antusias mahasiswa Lampung tahun ini, saya tidak menyangka mahasiswa yang mendaftar sebanyak ini. Awalnya kami hanya memberikan 300 kapasitas, tetapi yang mendaftar lebih dari itu sehingga kami mencoba tidak mengecewakan mahasiswa yang sudah menanti even tahunan ini,” tutur Davit

Ia menambahkan even Google I/O mengenalkan aplikasi terbarunya yaitu Firebase adalah BaaS (Backend as a Service). Aplikasi ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh Google untuk mempermudah pekerjaan Mobile Apps Developer. Dengan adanya Firebase, apps developer bisa fokus mengembangkan aplikasi tanpa harus memberikan effort yang besar untuk urusan backend.

Acara dibuka Rektor IBI Darmajaya Firmansyah Y. Alfian dan Ketua Yayasan Alfian Husin Andi Desfiandi. Acara yang dikemas talkshow ini menghadirkan pembicara yaitu Andreas Senjaya sebagai CEO we Grow, Edi Kurniawan (CEO Kebun Modal), Irsan Rajamin (Co Founder Habibi Garden), Nedi Sulendro (CTO Iqro’), Davit Kurniawan (Inisiator Krakatau Digital Movement), dan dimeriahkan Ibnu Sina Wardi, perwakilan dari Google Expert on Android.

Andreas Senjaya menjelaskan di epoch digital saat ini untuk menjadi kaya tak perlu mempunyai tanah berhektare-hektare. Melainkan hanya dengan membuat satu aplikasi yang bisa menjangkau kebutuhan masyarakat itu akan menjadikan kita menjadi seorang pengusaha.

Ia joke memberi contoh aplikasi yang bisa sukses dan eksis di kalangan masyarakat seperti Lazada, Booking.com, Agoda.com, dan Traveloka. Aplikasi Booking dan Agoda tak perlu mempunyai hotel untuk menjadi seorang perusahaan papan atas. Ia hanya perlu satu aplikasi solusi bagi para pengusaha hotel di Indonesia ini. Terbukti dua aplikasi ini banyak digunakan oleh masyarakat, saat membutuhkan hotel di daerah yang dituju.

Melihat peluang itu, Andreas membuat satu aplikasi yang dibutuhkan oleh petani dan pemilik lahan. “Aplikasi yang kami buat namanya adalah I Grow, aplikasi ini menghubungkan antara unite penanaman, petani, pemilik lahan, dan pembeli hasil penanaman dengan menggunakan teknologi cloud-based rural government software,” kata Andreas saat talkshow.

Aplikasi yang dibuatnya saat ini sudah menjangkau semua lahan yang ada di Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, Sumatera, dan merambah ke Sulawesi. Menurut Andreas aplikasinya sekarang memiliki lebih dari 1.300 unite penanaman, 1.200 petani, 800 ha penanaman, dan 300 ton lebih hasil panen kacang tanah.

CEO Kebun Modal Edi Kurniawan juga berfikir sama. Ia melihat fenomena gojek yang menjadi perusahaan transportasi kendaraan bermotor nomor 1 di Indonesia, walaupun banyak gejolak terjadi di kota-kota besar yang dihadiri oleh gojek tapi aplikasi ini tetap menjadi transportasi favorit masyarakat saat ini.

Melihat fenomena itu, ia berfikir untuk membuat aplikasi pasar modal. Mengajak masyarakat untuk berinvestasi dari pada menjadi seorang konsumtif. “Aplikasi ini menghubungkan pengusaha dan investor, tak harus membutuhkan dana banyak untuk mengikuti aplikasi kami karena di sini juga ada pengusaha UMKM,” ungkap Edi

Sedangkan Co Faunder Habibi Garden, Irsan Rajamin menjelaskan bagaimana sebuah aplikasi bisa membawa nama kita melambung ke dunia. Aplikasi yang dibuat sangat sederhana hanya untuk mendeteksi apa yang dibutuhkan oleh tanaman. Tapi bermanfaat untuk pemilik kebun.

Yang digunakan pada aplikasi ini yaitu sensor realtime terhadap intensitas cahaya, kelembaban, kelembaban, dan tanaman nutrisi. Perangkat ini mengumpulkan informasi dan mengolahnya sehingga mereka dapat memberitahu petani dan menunjukkan beberapa informasi yang berguna tentang tanaman.

Melihat pengalaman-pengalaman itu David Kurniawan menaruh banyak mimpi dan harapan di Lampung. Dengan majunya digitalisasi di Lampung ia berharap akan mendorong ekonomi kreatif dan digital sehingga masalah-masalah yang ada di Lampung ini dapat diselesaikan dengan mudah dengan aplikasi yang mendukung.

“Bersama DJ Corp kami sudah memulai untuk membuat aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan oleh daerah-daerah yang ada di Lampung, harapannya dengan adanya aplikasi yang kita buat menjadi solusi bagi daerah untuk cepat tanggap dengan keadaan disekitar,” harap David. (rls/ade)

More tabs ...

Posted in
Tagged . Bookmark the permalink.
short link tablet123.com/?p=392.